Bet365 Entertainment_Baccarat betting method_The rules of baccarat

  • 时间:
  • 浏览:0

“SeBetting oddsbuah kota yaBetting oddsng berdiri di atas papan kayu, tentu Agats memiBetting oddsliki banyak kekurangan.”

Penduduknya harmonis dan tak menyerah di tengah keterbatasan fasilitas yang ada via www.indonesiakaya.com

Jika jalanan di kota-kota lain dibuat dari tanah atau aspal, di Agats berbeda. Adalah papan kayu yang jadi penopang kehidupan di sana. Nggak cuma jalanannya saja yang dibuat dari kayu. Nyatanya, hampir semua bangunan di sana berbahan papan kayu juga.

Salah satu contoh kekurangannya tentu saja perkara air bersih. Hidup di atas rawa, mana ada sumber air bersih yang bisa dengan mudah di akses? Namun mereka juga tak kalah gigih dan kreatif. Menggunakan tandon air, warga Agats memilih untuk memaksimalkan air hujan sebagai sumber air mereka.

“Sebuah wilayah pesisir selatan Papua yang bernama Agats ini akan basah dan menjadi wilayah rawa untuk selamanya”

Namun toh mereka tak menyerah begitu saja dengan hidupnya. Memiliki banyak sekali keterbatasan dan kekurangan, warga Agats justru semakin terpacu untuk bertahan hidup di sana. Kota di atas papan kayu itu kini jadi salah satu tonggak wisata suku Asmat. Kreatif dan unik. Jelas saja banyak yang tertarik untuk menyaksikan sendiri seperti apa kehidupan di sana.

Mungkin jika bicara soal Papua, yang kamu kenal paling cuma burung Cendrawasih, Raja Ampat, transportasi susah hingga masyarakatnya yang masih memegang teguh kepercayaan adatnya saja. Untuk urusan peradaban. Mungkin dalam benakmu peradaban di Papua ya cuma gitu-gitu doang. Isinya cuma masyarakat adat yang masih belum terlalu melek teknologi.

Di tengah “ketertinggalan” yang ada di Agats, namun bisa dibilang bahwa fasilitas yang ada di sana cukup mumpuni, loh. Jika kota-kota lain di Papua masih belum memiliki fasilitas kesehatan, pendidikan dan pemerintahan yang layak, di Agats sudah ada rumah sakit, kantor bupati dan sekolah (meski dibangun dari papan kayu juga).

Nah, pernyataan tersebut dianggap sebagai sebuah kutukan. Nggak percaya? Di dekat pelabuhan kecil Agats ada loh patung dari Pastur Jan. Kalau berkunjung ke sana, coba deh minta penduduk lokal untuk menjelaskan soal patung tersebut.

“Jika musim kemarau, ya tinggal nggak mandi.”

Di Agats juga ada larangan dari Bupatinya agar warga tak menggunakan kendaraan bermotor. Selain karena beban kendaraan bermotor yang berat, emisi yang dikeluarkan kendaraan bermotor juga berbahaya bagi kesehatan. Fix! Dengan begitu bisa dibilang Agats adalah salah satu kota tanpa polusi di dunia! Sebuah terobosan unik yang tak hanya baik untuk warganya namun juga baik untuk alam kita.

Berbeda dengan kota-kota lain, Agats tidak berdiri di atas dataran yang kokoh melainkan hamparan lumpur dan rawa-rawa. Jelas saja sangat susah untuk membangun sebuah peradaban di sana.

“Ada sensasi seru ketika ada sepeda atau motor listrik lewat. Jalanan yang tadinya tenang, jadi bergetar seperti sedang gempa.”

“Meski hidup di atas papan kayu yang memiliki banyak kekurangan, namun warga Agats nampaknya sangat jauh dari kesan tidak bahagia.”

Daratan yang berlumpur dan dipenuhi rawa jelas sulit untuk mendirikan bangunan di sana. Namun, berkat keteguhan dari masyarakat suku Asmat, mereka menemukan satu solusi untuk membangun kota di atas wilayah lumpur dan rawa tersebut.

“Mulai dari jalan, rumah, lapangan bermain, kantor bupati hingga rumah sakit; semuanya terbuat dari papan kayu dan berdiri di atas papan kayu! Itu yang membuat Agats unik dan berbeda dari yang lain.”

Dengan sarana dan prasarana yang seperti itu, tentunya bukan hal mudah bagi kendaraan bermotor untuk melewatinya. Papan kayu yang berdiri di atas tanah berlumpur dan rawa-rawa jelas tak akan kuat menopang beban dari kendaraan bermotor. Oleh karena itu, mayoritas mobilitas yang dilakukan oleh penduduk Agats dilakukan dengan motor listrik atau berjalan kaki.

Papan kayu itu jadi simbol kegigihan mereka. Dari yang semula lumpur dan rawa, kini disulap jadi hunian dan peradaban.

Dengan begitu, kualitas kehidupan di Agats bisa dibilang lebih baik dari beberapa kota lain di Papua. Di sana ada gedung olahraga yang selalu saja ramai diisi penduduk Agats yang ingin bermain badminton. Pun demikian dengan lapangan papan yang selalu saja ramai dipenuhi mereka yang bermain futsal.

Ada mitos soal kenapa tanah di Agats selalu basah dan bahkan cenderung berlumpur. Menurut kepercayaan warga Agats, rawa dan lumpur yang ada di sana itu adalah akibat dari kutukan seorang pastur bernama Jan Smith. Awalnya, ia adalah seorang missionaris yang mengajarkan Injil pada warga Papua. Namun, ia tiba-tiba meninggal tanpa ada yang tahu sebabnya apa. Sesaat sebelum meninggal, Jan membuat sebuah pernyataan:

Sangat berbeda jauh dari kita yang hidup di kota dengan segala fasilitasnya, namun selalu saja merasa ada yang kurang.

Namun, kalau bicara soal keelokan adatnya, ternyata Papua memiliki kemajuan yang lebih daripada kota-kota besar lain di Indonesia. Di tanah Papua yang katanya tertinggal dari segi teknologi informasi, nyatanya ada sebuah kota yang berdiri di atas papan kayu. Perkenalkan, namanya Agats; kota di atas papan yang punya keindahan menawan.

Salut untuk warga Agats! Mereka saja tetap gigih dalam menjalani hidup di tengah keterbatasan fasilitas. Kamu yang hidup di kota besar apa kabar? Masa iya menyerah begitu saja? Malu dong sama saudara-saudara kita yang berada di Agats sana?