Online gambling_Blackjack bookmaker advantage_Sing baccarat method_Indonesian gambling

  • 时间:
  • 浏览:0

NPlPlaying real money baccarataying real money baccarategara ini sungguPlaying real money baccarath hebat Playing real money baccaratkarena berani menjunjung tinggi demokrasi. Pemerintah memberikan kesempatan yang sama rata bagi seluruh rakyatnya, baik mereka yang pro maupun yang kontra, khususnya dalam berekspresi, berpendapat; mendapatkan jabatan dalam pemerintahan, beasiswa pendidikan dsb.

Tiba-tiba ingat dengan tulisan seorang blogger Indonesia yang berdomisili di sana dan ia sangat senang setiap kali disapa ‘darling’ oleh nenek cantik yang sering ia temui. Tentu, ini tak lepas dari kebiasaan mereka yang suka berjalan kaki saat beraktivitas. Budaya ini membawa dampak positif. Pertama, mudah akrab dengan yang lain dan kedua, polusi udara tidak merajalela.

Seorang sahabat pernah berkata, "Andai kelak berkesempatan menimba ilmu di Inggris, mungkin di Universitas Cambridge, Oxford atau lainnya, jangan lupa manfaatkan waktu senggang untuk menjelajah destinasi wisata sejarah di sana."

Mata saya jelalatan menikmati hiruk-pikuk kota ini. Bisa menginjakkan kaki di Piccadilly Circus bukanlah hal mudah. Catat, ini perjuangan panjang yang tak terlupa di sepanjang hidup saya. Banyak hal asing yang saya temui. Bukan hanya tentang arsitektur uniknya, layar-layar iklan produk ternama di dunia itu pun terpampang megah. Bersyukur, percikan air mancur di tengah kota itu lumayan menyejukkan hati. Persis seperti cerita cinta, U.K (United Kingdom) sukses memberi saya rasa.

Sore itu saya duduk di teras rumah sambil menikmati afternoon tea—minum teh ditemani kue-kue kecil dan scone bak para bangsawan Inggris masa lalu. Disitu saya merenungi, mencoba menguatkan hati dan bersabar.

Horeee… Sampailah saya di tanah Britania, kawasan menarik yang memberikan banyak ilmu, baik untuk berbicara, berpikir maupun memutuskan sesuatu. Dikawal si merah, double decker bus, saya pun berkeliling kota sambil memegang peta. Butuh berhari-hari untuk mengenal ia lebih dekat. Negara yang sering dijuluki “The Black Country” ini memang sering menjadi tujuan wisata pelancong dari berbagai negara. Selain daya tarik industrinya, ia dan deretan negara tetangga lain juga menyimpan panorama alam yang sangat menarik.

Menghargai waktu, inilah hal positif yang saya kagumi. Suatu hari saya mendapat undangan makan malam dari kolega yang lama tinggal di sana. Sambil membawa sekotak coklat untuknya, sambutan ceria saya rasakan lewat senyum manisnya. Selang beberapa waktu, ada sebuah tontonan (tak) menarik kala rekan lain hadir terlambat, mereka memandang aneh. Saat itu juga saya merasa menjadi orang paling beruntung di dunia.

Ada lagi destinasi lainnya. Ini adalah satu warisan budaya UNESCO yang menjadi tempat pernikahan anggota kerajaan, tak terkecuali Wills & Kate yang sukses mengikat janji suci 2011 silam. Menjadi bagian dari kompleks istana kerajaan Inggris, Westminster Abbey sukses memanjakan mata dengan pemandangan taman hijau yang mengelilingi istana.

Jelajah tempat lain juga saya lakukan. Dengar bisik-bisik tentang Bichester Village, terbayang akan sebuah kampung wisata klasik, saya pun meluncur kesana. Akhirnya saya kaget setengah mati. Mata ini terbelalak mengamati rentetan harga produk super mahal. What? Desa terpelosok ini menjual produk branded sekelas London? Hampir tak percaya.

Mulai penasaran dengan pesonanya? Atau kamu sudah pernah melangkahkan kaki ke sana? Agar percaya kalau Inggris itu menarik, saya kasih sedikit 'oleh-oleh' ya, hasil petualangan kemarin.

Ternyata perjalanan indah ini hanya saya tempuh semalaman, saat larut dalam mimpi. Ya, hanya dalam mimpi. Beuhhh…. Tuhan, kapan ini terealisasi?

Cerita ini bukan tentang kota yang sedikit angkuh karena kesibukan duniawinya. Saat musim panas, pasar Carboot menjadi saksi betapa negara ini masih menyisakan ruang yang ‘memanusiakan’ satu sama lain. Saling bertegur sapa, berkenalan hingga tawar-menawar harga adalah kunci dari ramainya pasar yang berumur ratusan tahun ini. Bagaimana pengunjungnya? Masih setia dari waktu ke waktu.

Inggris atau England adalah salah satu negara bagian dari U.K (United Kingdom), disamping Wales, Scotlandia, dan Irlandia Utara. Perbedaan budaya mereka justru tampak semakin mewarnai dinamika kehidupan kota. Itulah yang membuat saya penasaran. Tingginya interaksi sosial serta keamanan yang terjaga, menjadi alasan kuat mengapa saya betah berlama-lama di sini. Bagaimana tak aman, di setiap sudut kota terpampang ‘police public call box’, semacam fasilitas umum untuk menghubungi polisi saat kondisi darurat. “Hallo, pak polisi…” Hihihi…

Beberapa kali melintas sambil menikmati lembutnya daging Fish and Chips di pinggir jalan ini, saya menjadi hafal siapa saja yang sering berpapasan mesra. Mesra karena si nenek, ayah perkasa yang hobi memanggul anaknya di pundak atau si belia yang hobi memasang earphone ditelinganya itu benar-benar ramah dan tulus menyapa saya.

Nuansa sejarah di negara monarki ini memang terasa kental. Ada sebuah bingkai foto yang terpajang di ruang tamu—saat dimana saya lempar senyum ceria diantara ‘pigeon’ atau merpati yang menambah harmonisasi Trafalgar Square, sebuah destinasi menarik di Central London. Selain tampak megah, bangunan luas ini juga dihias dengan air mancur dan patung-patung menawan.

Kepala mendadak puyeng dan bergegas menjauh. Satu produk yang saya dapatkan di Bichester setara dengan 100 produk yang saya beli di Carboot. Duh, mending menikmati pertunjukan drama musikal daripada harus menghanguskan uang di kasir dalam tempo singkat.

Contoh lain saat saya membeli tiket London Eye, si bianglala megah yang tampak romantis di malam hari itu. Setiap orang tampak tertib berdiri sesuai antrean sehingga sangat jarang terjadi kekacauan. Bagi mereka, antre adalah cara untuk menghargai hak orang lain.

Icip sarapan ala-ala Inggris (Full english Breakfast) sudah. Menyusuri desa klasik Cotswolds, yang dulunya pernah jadi lokasi syuting film ‘Wolf Hall’ juga sudah. Selfie dengan backround Big Ben juga sudah. Jalan-jalan cantik sambil menikmati udara segar di Hadrian’s Wall juga sudah. Pokoknya, liburan saya kemarin mengasyikkan. Lebih asyik lagi saat sukses spam foto-foto ini ke media sosial pribadi, datang-jepret-upload. Hihihi…

***

#AyoKeUK #WTGB #OMGB

Tiba-tiba teringat tarian Morris yang melegenda itu, ingin menikmatinya di depan istana besar. Gerakan berirama sekelompok penari itu seakan menyiratkan kebanggaan rakyat yang hidup damai dan bahagia di bawah naungan kerajaan Inggris.