The world's largest sports betting platform_Online betting_Gambling terms_Indonesia_American Lottery

  • 时间:
  • 浏览:0

RaRankRanking of Asian Bookmakersing of Asian Bookmakersnking of Asian Bookmakersmeski nggak mRanking of Asian BookmakersudaRanking of Asian Bookmakersh, dalam tulisan sederhana saya kali ini, saya akan berusaha berbagi sedikit tentang usaha saya dan suami menjaga kesetaraan dalam kehidupan pernikahan kami. Please keep in mind, ini adalah cara dan opini saya pribadi dan kamu sangat berhak setuju dan nggak setuju dengan pendapat saya kali ini.

Ya, sesimpel kalau saya berhak berkarier, suami saya pun demikian. Saya masak, suami cuci piring. Saya cuci baju, suami jemur pakaian. Saya bersihin galon, suami yang angkat. Tak pernah juga siapa pun memaksakan ‘kewajiban’ di ranjang. Saya belum kelar bekerja, suami pasti yang jemput anak dulu. Suami gajian, saya belanja. Eh, yang terakhir belanjanya bisa sama-sama ya, hehe. Pun soal keputusan dalam rumah tangga dan pengasuhan anak, kami kerjakan dan putuskan bersama. Semua happy dan masing-masing kebutuhan terpenuhi, nah itu baru setara versi aku.

Berantem? Ah, sudah biasa~ Yang penting, semua harus wajib didiskusikan sedini mungkin. Kita yang membentuk, ingin seperti apa rumah tangga kita. Bahkan isu ini sudah jadi pembicaraan kami sebelum menikah. Kami berdua perlu menyamakan frekuensi. Awalnya susah banget, tapi setelah belajar, jatuh bangun berkali-kali akhirnya kita bisa saling sepakat, demi kehamornisan pernikahan. Bukan untuk merendahkan lelaki, tapi mendapat posisi yang layak untuk kita sendiri.

Akhir kata, saya tahu nggak semua perempuan di luar sana, bisa memperjuangkan haknya di dalam pernikahan dengan mudah. And I will always pray and stand with you, Sis. You deserve to be respected and to be heard. PR kita bersama adalah jangan sampai generasi kita selanjutnya menjadi penghambat atau korban ketidaksetaraan dalam membina pernikahannya. Mengutip sebuah kalimat epik tentang kelas sosial dan kesetaraan dari salah satu buku favorit saya, Jane Eyre karya Charlotte Brontë:

“I am no bird; and no net ensnares me: I am a free human being with an independent will.”

Datang dari latar keluarga yang berbeda, sangat mungkin membuat pemahaman soal kesetaraan dalam pernikahan juga berbeda. Jujur dulu di awal pernikahan saya suka ngedumel, kenapa suami harus selalu didorong untuk turun tangan urusan bersih-bersih rumah? Bukannya doi nggak mau, cuma di awal dia masih belum ngeh banget kalau itu juga adalah tanggung jawab bersama. Doi dulu bahkan masih merasa bebas wira-wiri sama teman, sementara saya kerap merasa ‘terjebak’ dengan beban kerjaan rumah tangga dan urusan pengasuhan anak, yang harusnya nggak saya tanggung sendirian. Sad. Salahnya dulu, saya belum mengerti cara ngajak diskusi, lebih milih ngambek doang karena saya pikir ini kan sudah pernah dibahas, kok nggak ngerti-ngerti. Hedeh ya, jangan ditiru.

Berbalik dengan keluarga suami, dimana ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah utama, dan ayah saya sejak akhir usia 40-an, terpaksa nganggur dan lebih banyak berdiam di rumah. Ibu saya benar-benar serba bisa, tough dan disiplin banget orangnya. Latar belakang pola rumah tangga yang berbeda mengasah opini yang berbeda juga. Saya pribadi menganggap cewek itu harus mandiri dan berhak memilih nggak berurusan sama dapur saja, tapi bisa berkarier juga. Lantas gimana menyatukan perbedaan ini dengan suami? Nggak ada cara lain, selain belajar komunikasi dan kompromi.

Saya percaya, adil itu rumit, nggak sesimpel apa yang saya bisa kerjakan, dia harus bisa juga. Saya percaya adil itu setara dalam menjalankan kewajiban dan setara dalam mendapatkan hak. Tak ada yang yang timpang atau terbebani sendiri, tapi semua beban terdistribusi rata.

Kesetaraan kini menjadi isu utama di berbagai ranah, dan saya rasa PR kita adalah membenahi dari ranah terkecil dulu, yaitu rumah tangga. Jika di era babyboomer dulu, mungkin dominasi ayah/suami alias pria masih sangat terasa, maka tugas kita para pasangan milenial kini adalah membenahi dengan merekonstruksi pola rumah tangga agar keluar dari ‘kepercayaan lama’ para orang tua kita dulu, seputar pemahaman hak dan kewajiban bagi suami istri di ruang publik maupun privat. Beruntung, suami saya sangat open minded dan nggak sulit diajak berkompromi . Coba kalau nggak?

Menyambut Hari Perempuan Internasional pada tanggal 8 Maret besok, saya diminta oleh supervisor saya untuk menulis tentang sesuatu yang berhubungan dengan #KesetaraanTanpaTapi seputar kehidupan pernikahan saya. Terus terang, saya sedikit bingung untuk memulai tulisan ini karena dalam pernikahan, bicara soal kesetaraan itu bisa jadi hal yang rumit dan luas banget cakupannya.

Saya rasa cuma mimpi deh kalau saya berharap semua orang (baca: termasuk suami) otomatis bisa memahami apa yang saya mau. If you really want it, say it louder, Sis! Jangan enggan mengutarakan pendapatmu terus terang. Saya nggak takut dikatain suami tukang ngeluh, selama hal yang bikin saya nggak nyaman di rumah belum dibenahi. Lha wong itu hak saya kok, sama seperti dia juga berhak komplain dan saya nggak boleh buru-buru baper. Tapi ya belajar juga, cara mengutarakan pendapat dengan nyaman dan cerdas. Ngambek doang tuh bukan solusi~ Setara itu sama-sama enak, nggak boleh ada yang diam-diam menangis dalam tidur karena merasa hak-haknya terinjak.

Saya nggak berharap suami saya merasakan sakitnya melahirkan seperti saya atau merasakan persis kepayahan saya saat mengurus rumah dan anak ketika dia tak ada. Saya dan suami belajar sepakat, untuk membagi segala sesuatu bersama mulai dari urusan pekerjaan rumah tangga seadil-adilnya, sesuai kemampuan dan ketersediaan waktu masing-masing.